Sabtu, 13 November 2021

PAHLAWAN dan SEMANGAT SANTRI PENEGAK BANGSA

Keberkahan kemerdekaan RI pada 1954 tidak terlepas dari jasa pahlawan. Selain berkat perjuangan dari pahlawan nasional, dari kita banyak yang tidak menyadari bahwa kemerdekaan juga diraih oleh para ulama, juga tak lepas dari perjuangan para santri yang sangat luar biasa. Sayangnya Indonesia tak mencatat perjuangan santri dengan baik. Banyak perjuangan tokoh-tokoh Islam yang tak dituliskan dalam buku sejarah. Santri mempunyai peran penting dalam merebut kemerdekaan Negara Indonesia, terlebih saat ikut perang mengalahkan sekutu pada 10 November. Melalui Kyai besar KH. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan fatwa jihad, 17 September 1945. Semangat para Santri dalam perang meraih kemerdekaan Indonesia semakin kuat. Fatwa ini antara lain berbunyi: 1. Hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardlu’ainbagi tiap-tiap orang Islam. 2. Hukumnya orang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta kompotannya adalah mati syahid 3. Hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini adalah wajib dibunuh. Setelah terbitnya Resolusi Jihad tersebut, melalui pidato Bung Tomo pada siaran radionya yang semakin “menggila” dalam menggelorakan semangat rakyat. Atas saran KH. Hasyim Asy’ari sewaktu Bung Tomo sowan ke Pesantren Tebuireng, lantunan takbir harus senantiasa mengiringi pidato Bung Tomo. “…Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstermis. Kita yang memberontak dengan penuh semangat revousi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi. Tuhan akan melindungi kita. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!…” Kenyataanya, Resolusi Jihad menjadi pegangaan spiritual bagi para pemuda pejuang bukan hanya di Surabaya, melainkan di kawasan Jawa dan Madura. Rakyat Surabaya yang telah diultimatum Inggris, nyatanya malah menunggu pecahnya pertempuran. Dibarengi dengan kesatuan para santri yang berbondong-bondong ke Surabaya. Ultimatum tersebut sama sekali tidak meruntuhkan mental pejuang dan rakyat Surabaya. Malam tanggal 9 November hingga dini hari 10 November tidak ada satupun penduduk kota Surabaya yang tidur. Semua memasang barikade penutup jalan untuk menghambat gerakan musuh. Namun, di tengah ketegangan malam itu, ratusan pejuang menyemut di Kampung Baluran Gang V. Mereka antre bergiliran menunggu pemberian air yang telah didoakan oleh ulama yang berasal dari Banten, KH. Abbas Djamil. Para santri juga menjadi garda depan pertempuran di Surabaya. Prediksi Inggris meleset jauh, dukungan logistik yang melimpah, alutsista yang modern serta ribuan serdadu ternyata kesulitan menaklukan Surabaya. Prediksi Surabaya dapat dikuasai dalam waktu 3 hari, ternyata pontang-panting Inggris baru bisa merangsek masuk setelah 100 hari pertempuran. Perang tersebut sangat mengerikan, jauh dari yang dibayangkan pihak Sekutu. Para santri Surabaya menjadi sangat brutal dan ganas dengan pekikan Allahu Akbar. Persatuan pemuda ini tidak dapat dilepaskan akibat adanya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Hari Santri Nasional telah ditetapkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo dalam Keppres Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Hari Santri sendiri telah diperingati selama 5 tahun. Hari Santri ditujukan untuk kita meneladani semangat juang dan nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa lalu. Peran santri dan semangat juang dalam mempertahankan kemerdekaan ini lah yang menjadi panutan. Rasa nasionalisme santri atas fatwa yang dikeluarkan KH Hasyim Asy'ari patut dikenang dan diabadikan. Semoga kita sebagai generasi penerus bangsa ini bisa menjaga dan menguatkan rasa semangat nasionalisme terhadap bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar