KONSEP HIKMAH DALAM FILSAFAT DAKWAH
IMPLEMENTASI
AKHLAK KARIMAH SANTRI MODERN
Oleh:
Nama :
Anik Nadhifatun Niswah (1801046043)
Prodi : Manajemen Haji dan Umrah
Tugas : Filsafat Dakwah
Dosen
Pengampu : Hasyim Hasanah
Kata hikmah di dalam al Qur'an ada dua macam:
- Disebutkan berdampingan dengan kata alQur'an.
Jika bergandengan dengan Kata al-
Qur'an maka hikmah berarti hadits Rasul.
2. Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, disebutkan
sendirian.
Jika kata hikmah disebutkan
sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an, maknanya adalah: Tepat
dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada
tempatnya[1]
Di
dalam artikel yang saya buat ini akan memamaparkan hikmah dalam filsafat dakwah
dengan bentuk implementasinya yaitu “Akhlak Karimah”, dan fokus kepada implementasi
akhlak karimah seorang santri.
Kata
akhlak menurut bahasa adalah budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak berasal dari
bahasa Arab, Akhlaq, yang merupakan
bentuk jamak (plural) dari Khuluq,
yang sebenarnya memiliki beragam makna yang terkadang tidak identik seperti
budi pekerti, tabiat, perangai, harga diri (muru’ah), marah, dan agama. Dalam
Al Quran, kata akhlaq dengan makna budi pekerti (QS Al Qalam 68:4).
Pemakaian kata akhlak dalam bahasa Indonesia mungkin diilhami oleh sebuah Hadits Nabi yang sangat populer yaitu bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulya) dari kata makarim al akhlaq ini kemudian muncul istilah “akhlakul karimah” dalam kosa kata bahasa Indonesia. Sementara Al Quran memakai istilah al akhlaq al adzimah dengan konotasi makna yang sama seperti tersirat dari pengertian QS Al Qalam 68:4.
Secara terminologis, akhlakul karimah bermakna perilaku ideal seorang muslim seperti yang dicontohkan oleh Rasulallah SAW,.[2]
Pemakaian kata akhlak dalam bahasa Indonesia mungkin diilhami oleh sebuah Hadits Nabi yang sangat populer yaitu bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulya) dari kata makarim al akhlaq ini kemudian muncul istilah “akhlakul karimah” dalam kosa kata bahasa Indonesia. Sementara Al Quran memakai istilah al akhlaq al adzimah dengan konotasi makna yang sama seperti tersirat dari pengertian QS Al Qalam 68:4.
Secara terminologis, akhlakul karimah bermakna perilaku ideal seorang muslim seperti yang dicontohkan oleh Rasulallah SAW,.[2]
Pendidikan
akhlak merupakan usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menanamkan
nilai-nilai ataupun norma-norma tentang budi pekerti, sehingga manusia dapat
memahami dan mengerti serta mengamalkan norma-norma tentang budi pekerti itu
sendiri. Baik buruknya akhlak seseorang adalah suatu penilaian yang diberikan
masyarakat.Pendidikanyang mengarahpada terbentuknya kepribadian berakhlak
merupakan hal yang pertama yang harus dilakukan, sebabhal tersebut
akanmelandasikestabilankepribadiansecarakeseluruhan. Maka salah satu tugas
orang tua adalah memberi bekal akhlak yang baik terhadap anak-anaknya sejak
dini. Dalam proses pendidikan akhlak diperlukan strategi dan metode yang tepat
untuk melahirkan generasi muda yang berakhlakul karimah, maka tidak cukup hanya
mengandalkan pendidikan di sekolah saja, akan tetapi perlu dukungan pendidikan
luar sekolah diantaranya melalui pendidikan pondok pesantren.[3]
Berdasarkan
observasi yang saya lakukan di Pondok pesantren, yaitu Ma’had Al-Jami’ah
Walisongo Semarang, disini diterapkan berbagai macam pendidikan karakter
sebagai santri. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pendidikan karakter
yaitu akhlakul karimah di Mahad Wlisongo Semarang dengan cara pembiasaan para santri, seperti sholat
berjamaah, kelas pagi bahasa arab dan bahasa inggris, khitobah, speech, ro’an, takziran, sholawat barjanji, pembacaan
asma’ul husna, pengajian Al Qur’an, serta kajian kitab kuning. Sedangkan metode yang digunakan dalam
pembentukan akhlak di Pondok Pesantren ini adalah sebagai berikut:
a. Metode
keteladanan, yaitu para santri diajarkan untuk menjadi teladan yang baik,
bertutur kata yang sopan dan hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
b. Metode pembiasaan, yaitu para santri diajarkan
untuk membiasakan diri untuk melaksanakan sholat berjamaah, penkajian Al-Quran,
kitab kuning dan kegiatan rutinan minggunan seperti roan, pembacaan sholawat
nabi, Rotib Al-Hadad dll.
c. Metode
nasihat, yaitu para santri akan diberikan nasihat-nasihat serta beberapa
wejangan untuk dapat menjadi santri yang berakhlak karimah.
d. Metode
hukuman, yaitu apabila seorang santri melanngar suatu peraturan yang ada di
Pondok pesantren, maka ia akan diberi hukuman sebagai media penerapan
pendidikan akhlak santri.
Dari beberapa upaya dan usaha yang
dilakukansecara umum memang dapat dirasakan hasilnya bahwa dimana santri
sebagian besar telah memiliki sikap yang baik, menghormati guru, menghargai
orang lain, sabar, disiplin, gotong royong serta memiliki solidaritas yang
tinggi.
Seseorang yang telah mencapai hikmah, dapat
diamati dari tampilan usanhanya yang selalu mencari bukti keyakinan, sehingga
tak satupun pengetahuan-pengetahuan yang berfaedah lepas dari pemahamannya.[4] Begitu pula
pengimplementasian hikmah dalam bentuk Akhlaq karimah para santri, mereka akan
senantiasa tidak melepaskan suatu ilmu yang dimilikinya dan selalu
mengamalkannya dalam bentuk ibadah dan etika sebagai santri.
Daftar
Pustaka:
John F. 2001. Family Medical Care Volume 4.
Bandung: Indonesia Publishing House.
Syuhud Fatih, Pribadi Akhlakul Karimah
M. Amril, 2002, Etika Islam, (Pekan Baru: LSFK2P, ), HLM. 63.
E-journal http://repository.iainpurwokerto.ac.id/2759/,
di kutip pada 9 Desember 2019 pukul 11:45 WIB
Hasanah Hasyim, Materi Filsafat Dakwah Konsep Hikmah Filsafat Dakwah
[1] Hasyim
Hasanah, Materi Filsafat Dakwah Konsep
Hikmah Filsafat Dakwah
[2] A. Fatih Syuhud, Pribadi
Akhlakul Karimah
[3]
E-journal http://repository.iainpurwokerto.ac.id/2759/,
di kutip pada 9 Desember 2019 pukul 11:45 WIB
[4] Amril
M., Etika Islam, (Pekan Baru: LSFK2P,
2002), HLM. 63.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar