Minggu, 08 Desember 2019

KONSEP HIKMAH DALAM FILSAFAT DAKWAH IMPLEMENTASI AKHLAK KARIMAH SANTRI MODERN


KONSEP HIKMAH DALAM FILSAFAT DAKWAH
IMPLEMENTASI AKHLAK KARIMAH SANTRI MODERN
Oleh:
Nama                         : Anik Nadhifatun Niswah (1801046043)
Prodi                          : Manajemen Haji dan Umrah
Tugas                                    : Filsafat Dakwah
Dosen Pengampu  : Hasyim Hasanah
Kata hikmah di dalam al Qur'an ada dua macam:
  1. Disebutkan berdampingan dengan kata alQur'an.
Jika bergandengan dengan Kata al- Qur'an maka hikmah berarti hadits Rasul.
2.    Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, disebutkan sendirian.
Jika kata hikmah disebutkan sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an, maknanya adalah: Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya[1]
Di dalam artikel yang saya buat ini akan memamaparkan hikmah dalam filsafat dakwah dengan bentuk implementasinya yaitu “Akhlak Karimah”, dan fokus kepada implementasi akhlak karimah seorang santri.
Kata akhlak menurut bahasa adalah budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, Akhlaq, yang merupakan bentuk jamak (plural) dari Khuluq, yang sebenarnya memiliki beragam makna yang terkadang tidak identik seperti budi pekerti, tabiat, perangai, harga diri (muru’ah), marah, dan agama. Dalam Al Quran, kata akhlaq dengan makna budi pekerti (QS Al Qalam 68:4).

Pemakaian kata akhlak dalam bahasa Indonesia mungkin diilhami oleh sebuah Hadits Nabi yang sangat populer yaitu bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulya) dari kata makarim al akhlaq ini kemudian muncul istilah “akhlakul karimah” dalam kosa kata bahasa Indonesia. Sementara Al Quran memakai istilah al akhlaq al adzimah dengan konotasi makna yang sama seperti tersirat dari pengertian QS Al Qalam 68:4.

Secara terminologis, akhlakul karimah bermakna perilaku ideal seorang muslim seperti yang dicontohkan oleh Rasulallah SAW,.[2]

Pendidikan akhlak merupakan usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menanamkan nilai-nilai ataupun norma-norma tentang budi pekerti, sehingga manusia dapat memahami dan mengerti serta mengamalkan norma-norma tentang budi pekerti itu sendiri. Baik buruknya akhlak seseorang adalah suatu penilaian yang diberikan masyarakat.Pendidikanyang mengarahpada terbentuknya kepribadian berakhlak merupakan hal yang pertama yang harus dilakukan, sebabhal tersebut akanmelandasikestabilankepribadiansecarakeseluruhan. Maka salah satu tugas orang tua adalah memberi bekal akhlak yang baik terhadap anak-anaknya sejak dini. Dalam proses pendidikan akhlak diperlukan strategi dan metode yang tepat untuk melahirkan generasi muda yang berakhlakul karimah, maka tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan di sekolah saja, akan tetapi perlu dukungan pendidikan luar sekolah diantaranya melalui pendidikan pondok pesantren.[3]
Berdasarkan observasi yang saya lakukan di Pondok pesantren, yaitu Ma’had Al-Jami’ah Walisongo Semarang, disini diterapkan berbagai macam pendidikan karakter sebagai santri. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pendidikan karakter yaitu akhlakul karimah di Mahad Wlisongo Semarang dengan cara  pembiasaan para santri, seperti sholat berjamaah, kelas pagi bahasa arab dan bahasa inggris, khitobah, speech,  ro’an, takziran, sholawat barjanji, pembacaan asma’ul husna, pengajian Al Qur’an, serta kajian kitab kuning.  Sedangkan metode yang digunakan dalam pembentukan akhlak di Pondok Pesantren ini adalah sebagai berikut:
a.    Metode keteladanan, yaitu para santri diajarkan untuk menjadi teladan yang baik, bertutur kata yang sopan dan hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
b.     Metode pembiasaan, yaitu para santri diajarkan untuk membiasakan diri untuk melaksanakan sholat berjamaah, penkajian Al-Quran, kitab kuning dan kegiatan rutinan minggunan seperti roan, pembacaan sholawat nabi, Rotib Al-Hadad dll.
c.    Metode nasihat, yaitu para santri akan diberikan nasihat-nasihat serta beberapa wejangan untuk dapat menjadi santri yang berakhlak karimah.
d.    Metode hukuman, yaitu apabila seorang santri melanngar suatu peraturan yang ada di Pondok pesantren, maka ia akan diberi hukuman sebagai media penerapan pendidikan akhlak santri.
Dari beberapa upaya dan usaha yang dilakukansecara umum memang dapat dirasakan hasilnya bahwa dimana santri sebagian besar telah memiliki sikap yang baik, menghormati guru, menghargai orang lain, sabar, disiplin, gotong royong serta memiliki solidaritas yang tinggi.
Seseorang yang telah mencapai hikmah, dapat diamati dari tampilan usanhanya yang selalu mencari bukti keyakinan, sehingga tak satupun pengetahuan-pengetahuan yang berfaedah lepas dari pemahamannya.[4] Begitu pula pengimplementasian hikmah dalam bentuk Akhlaq karimah para santri, mereka akan senantiasa tidak melepaskan suatu ilmu yang dimilikinya dan selalu mengamalkannya dalam bentuk ibadah dan etika sebagai santri.
Daftar Pustaka:
John F. 2001. Family Medical Care Volume 4. Bandung: Indonesia Publishing House.
Syuhud Fatih, Pribadi Akhlakul Karimah
M. Amril, 2002, Etika Islam, (Pekan Baru: LSFK2P, ), HLM. 63.
E-journal http://repository.iainpurwokerto.ac.id/2759/, di kutip pada 9 Desember 2019 pukul 11:45 WIB
Hasanah Hasyim, Materi Filsafat Dakwah Konsep Hikmah Filsafat Dakwah







[1] Hasyim Hasanah, Materi Filsafat Dakwah Konsep Hikmah Filsafat Dakwah
[2]  A. Fatih Syuhud, Pribadi Akhlakul Karimah
[3] E-journal http://repository.iainpurwokerto.ac.id/2759/, di kutip pada 9 Desember 2019 pukul 11:45 WIB
[4] Amril M., Etika Islam, (Pekan Baru: LSFK2P, 2002), HLM. 63.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar